Banner
Indonesian Nutrition Network

ENGLISH

Rujukan

 

Pedoman Gizi

 

Pergizi Pangan

 

Gizi dan Makanan

 

Info Pangan dan Gizi

 

Lembar Berita

 

Jurnal Gizi Indonesia

 

Kontak DPP PERSAGI


Indonesian Nutrition
Network (INN)
Jl. HR. Rasuna Said Blok X-5 Kav. No. 4-9 Lt. 8, Jakarta 12950 Indonesia
Email: info@gizi.net

Copyright © 2001 INN
All rights reserved.

 

Kematian Akibat Campak Menurun Drastis


Rabu, 15 Maret, 2006 oleh: Siswono
Kematian Akibat Campak Menurun Drastis
Gizi.net - Kematian akibat penyakit campak mengalami penurunan drastis, yakni 48 persen dalam tempo enam tahun terakhir, menyusul keberhasilan program imunisasi global. Demikian laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Dana Pendidikan dan Anak PBB (UNICEF), seperti dikutip Antara, Senin (13/3).

Penurunan angka kematian itu merupakan total korban campak yang meninggal dunia selama periode tahun 1999-2004. Jika pada tahun 1999 tercatat 871.000 orang meninggal setelah terserang virus campak, maka pada tahun 2004 diperkirakan angka tersebut hanya sekitar 454.000 orang. WHO dan UNICEF percaya penurunan tajam itu merupakan "hasil manis" dari penggalakan program imunisasi yang dilakukan di tiap negara dan akses yang lebih baik bagi proses imunisasi.

Laporan kedua badan internasional itu menyebutkan bahwa penurunan angka kematian paling banyak terdapat di kawasan sub-Sahara Afrika. Diperkirakan di tempat itulah terjadi penurunan angka kematian akibat campak hingga 60 persen. "Ini adalah sejarah hebat dalam keberhasilan program kesehatan masyarakat," kata Dr Lee Jong-wook, Direktur Jenderal WHO.

"Kalau hal ini bisa dipertahankan, maka rencana untuk mengurangi kematian akibat campak hingga 50 persen, tentu dapat dicapai tepat pada waktunya," tambahnya.


Mudah Menular

Campak, hingga saat ini, merupakan salah satu penyakit paling mudah menular. Walaupun aman, efektif, dan murah, vaksin penyakit campak baru dapat diproduksi pada 1960-an. Pada 2004, WHO dan UNICEF memperkirakan 410.000 balita terpaksa tewas setelah terpapar campak. Sering kali mereka menemui ajal akibat komplikasi mencret parah dan radang paru-paru.

Tak sedikit dari mereka yang berhasil selamat harus menderita cacat permanen, seperti kebutaan dan kerusakan jaringan otak. "Campak masih menjadi pembunuh utama anak-anak yang hidup di negara berkembang, tapi sebenarnya hal itu bisa dihindari. Hanya dengan dua dosis vaksin campak, yang tidak mahal, aman, dan mudah diperoleh, kematian akibat campak bisa dielakkan," kata Ann M. Veneman, Direktur Eksekutif UNICEF.

WHO dan UNICEF sendiri telah lama berupaya menurunkan angka kematian campak. Mereka bekerja di 47 negara, yang total mengkontribusikan 98 persen angka kematian akibat campak di seluruh dunia. Secara khusus, kedua badan yang bergerak di bawah koordinasi PBB itu, berupaya meningkatkan program imunisasi, selain tentu saja memberikan perawatan serta pengawasan terhadap penyebaran penyakit.

Program aktivitas imunisasi tambahan juga terbukti efektif, sejak tahun 1999 hingga 2004, sekitar 500 juta anak mendapatkan imunisasi campak. Berdasarkan perkembangan di masing-masing kawasan, Benua Afrika terus mengalami penurunan tajam dalam hal angka kematian akibat campak. Kenyataan itu bertolak belakang dengan kawasan Asia Selatan yang prosesnya melamban.

WHO menyebutkan tantangan terbesar bagi Asia Selatan sekarang adalah meningkatkan pencapaian imunisasi campak hingga setidaknya 90 persen dan harus bisa dipastikan pula bahwa semua anak mendapatkan vaksin dosis pertama pada usia sembilan bulan dan juga dosis kedua.

Salah satu faktor penting penurunan angka kematian campak terletak pada dukungan kuat program "Measles Initiative". Sejak tahun 2001, program ini telah mendukung proses vaksinasi di 40 negara di Afrika dan menggalang dana hingga US$ 150 juta dari berbagai donatur.

Sumber: http://www.suarapembaruan.com