Banner
Indonesian Nutrition Network

ENGLISH

Rujukan

 

Pedoman Gizi

 

Pergizi Pangan

 

Gizi dan Makanan

 

Info Pangan dan Gizi

 

Lembar Berita

 

Jurnal Gizi Indonesia

 

Kontak DPP PERSAGI


Indonesian Nutrition
Network (INN)
Jl. HR. Rasuna Said Blok X-5 Kav. No. 4-9 Lt. 8, Jakarta 12950 Indonesia
Email: info@gizi.net

Copyright © 2001 INN
All rights reserved.

 

Penderita Kanker Terus Meningkat, Indonesia Kekurangan Dokter Bedah Onkologi


Selasa, 29 Maret, 2005 oleh: Siswono
Penderita Kanker Terus Meningkat, Indonesia Kekurangan Dokter Bedah Onkologi
Gizi.net - Jumlah penderita kanker di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tetapi, jumlah dokter bedah onkologi masih jauh dari kebutuhan. Saat ini Indonesia baru memiliki 62 ahli bedah onkologi.

''Penyakit kanker sangat berkaitan dengan kualitas hidup pasien. Sebab itu, standar pelayanan medis di bidang onkologi harus bisa menjawab tuntutan masyarakat saat ini,'' kata Menteri Kesehatan (Menkes) Fadilah Supari ketika membuka Temu Ilmiah Internasional Dokter Bedah Onkologi Indonesia ke-1 (1st International Scientific Meeting of Indonesian Society of Surgical Oncologyt/ISSO), Sabtu (26/3) di Jakarta.

Menurut Menkes, jumlah penderita kanker di Indonesia mencapai 6% dari populasi. Angka tersebut, katanya, hampir sama di negara-negara berkembang lainnya. Namun, kecenderungannya terus meningkat seiring globalisasi, gaya hidup dan kualitas pelayanan kesehatan.

''Mengacu pada standar pelayanan terhadap pasien, dokter dan rumah sakit harus bisa berkompetisi di jenjang internasional. Dengan pendekatan profesional, maka kejadian malapraktik akan berkurang. Indonesia juga harus memiliki standar pelayanan dan pengobatan kanker yang bisa meningkatkan kualitas hidup penderita.''

Untuk itu, Menkes berharap, dari pertemuan para ahli onkologi yang diikuti 21 negara itu bisa menjawab tantangan ke depan dalam memerangi penyakit kanker.

Tidak merata

Pada kesempatan sama, Ketua Umum Peraboi (Persatuan Ahli Bedah Onkologi Indonesia) Dr Dradjat R Suardi menjelaskan idealnya Indonesia memiliki 114 dokter bedah onkologi. ''Namun, yang tersedia saat ini baru 62 dokter ditambah 10 dokter yang sedang menjalani pendidikan. Totalnya 72 dokter. Jadi, masih kurang 42 dokter bedah onkologi untuk penduduk 200 juta lebih,'' kata Dradjat.

Selain itu, lanjutnya, penyebaran dokter onkologi di Indonesia juga tidak merata. Daerah Maluku, Maluku Utara, Irian Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) belum memiliki dokter bedah onkologi.

Idealnya, kata Dradjat, setiap rumah sakit daerah memiliki dua dokter bedah onkologi. Sedangkan rumah sakit pendidikan memiliki tiga dokter dan pusat pendidikan onkologi harus memiliki lima dokter bedah onkologi. Dan pusat pendidikan bedah onkologi saat ini hanya terpusat di Jakarta, Makasar dan Bandung. ''Dalam pertemuan ini kami juga mengundang dokter bedah dari daerah. Mereka wajib belajar dan mengetahui bagaimana menangani kasus kanker di daerahnya. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat,'' kata dokter dan pengajar di FK Unpad/RSUD Hasan Sadikin Bandung ini.

Dalam pertemuan ini, lanjutnya, Peraboi akan melihat perkembangan tiap daerah yang siap dijadikan pusat pendidikan bedah onkologi.

Sementara itu, Prof Marcos Moraes, President World Federation of Surgical Oncology Society (WFSOS) mengatakan saat ini para ahli onkologi dunia telah memiliki standar pelayanan kesehatan untuk penyakit kanker. ''Ini menyangkut multidisiplin. Tidak berdiri sendiri. Seluruh aspek baik dari onkologi, genetika, imunologi, kemoterapi, radioterapi, bedah hingga psikologi dan sosial menyatu dalam menangani pasien kanker,'' ujar Moraes, ang juga ketua Ary Frauzino Foundation for Cancer Research, Brazil.

Hal senada diungkapkan oleh Prof Dr Walley J Tample dari University Calgary/Tom Baker Center Calgary, Kanada. ''Ada tiga tahap dalam pengobatan kanker. Di masa lalu pengobatannya dengan cara mengangkat semua organ yang terkena kanker. Tetapi, dengan teknologi baru sekarang dokter cukup mengambil daerah yang terkena kanker saja. Caranya, identifikasi melalui marka gen. Sedangkan untuk ke depan selain pengobatan canggih itu harus pula diperhatikan kualitas hidup pasien pascaoperasi,'' kata Temple.

Sebab, lanjutnya, pada umumnya pasien kanker mengalami penurunan imun akibat obat-obatan antikanker. Berat badan merosot tajam karena berkurangnya nafsu makan dan kurang gizi. Oleh sebab itu dokter harus terus memantau kondisi pasien pascaoperasi agar kualitas hidup mereka terus membaik.

Prof dr Muchlis Ramli, ketua panitia acara menambahkan salah satu teknologi terkini dalam pengobatan kanker adalah operasi kanker tiroid tanpa pisau bedah.

''Indonesia sudah memiliki fasilitas itu dengan metode minimal invasive surgery termasuk tenaga medisnya. Saat ini baru di RSUPN Cipto Mangunkusumo yang menggunakan fasilitas bedah tiroid tanpa pisau,'' kata Ramli. (Nda/V-1).

Sumber: http://www.mediaindo.co.id