Banner
Indonesian Nutrition Network

ENGLISH

Rujukan

 

Pedoman Gizi

 

Pergizi Pangan

 

Gizi dan Makanan

 

Info Pangan dan Gizi

 

Lembar Berita

 

Jurnal Gizi Indonesia

 

Kontak DPP PERSAGI


Indonesian Nutrition
Network (INN)
Jl. HR. Rasuna Said Blok X-5 Kav. No. 4-9 Lt. 8, Jakarta 12950 Indonesia
Email: info@gizi.net

Copyright © 2001 INN
All rights reserved.

 

60 Persen Obat Palsu Beredar di Asia Tenggara


Kamis, 20 November, 2003 oleh: Siswono
60 Persen Obat Palsu Beredar di Asia Tenggara
Gizi.net - Badan Organisasi kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, saat ini penggunaan obat palsu meningkat. Selain murah, obat palsu juga mudah diperoleh. Pernyataan ini dikeluarkan WHO saat kampanye pengurangan penggunaan obat berbahaya yang dapat menyebabkan kematian. Ini dilansir BBC, Rabu (11/11).

WHO memperkirakan, saat ini ada sekitar 25 persen obat yang dikonsumsi di negara-negara berkembang adalah palsu dan di bawah standar internasional. Umumnya jenis obat-obatan itu adalah obat malaria, TBC dan AIDS.
Menurut WHO, obat palsu banyak beredar di Kamboja, Cina, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam. Negara-negara tersebut merupakan negara yang program kesehatannya sangat rendah.

Tetapi kata WHO, penggunaan obat-obat palsu tidak hanya terjadi di negara berkembang. Di negara maju, penggunaan obat palsu jugasudah menyebar luas. Salah satu obat palsu yang paling laris saat ini adalah Viagra.Obat ini bahkan bisa dibeli dengan mudah melalui internet.

Direktur Umum WHO Dr Lee Joong Wook mengatakan, "Perang terhadap penyebaran obat palsu dan yang rendah kualitasnya merupakan hal yang sangat penting dilakukan saat ini." Menurutnya, yang perlu dilakukan saat ini adalah memperluas akses agar masyarakat bisa mendapatkan obat yang aman, yang efektif untuk mencegah AIDS dan penyakit lainnya.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika memperkirakan lebih dari 10 persen obat palsu beredar di pasar obat dunia. Penjualan obat palsu bisa mencapai lebih dari US$ 32 miliar per tahun. Dari hasil survei yang dilakukan WHO pada Januari1999 dan Oktober 2000, ditemukan ada sekitar 60 persen kasus obat palsu terjadi di negara berkembang dan sisanya 40 persen di negara-negara industri.

Daniela Bagozzi, juru bicara WHO mengatakan, masalah penyebarluasan obat palsu semakin bertambah dengan adanya kebijakan menerapkan perdagangan bebas. Dia juga menekankan, betapa mudahnya orang memproduksi obat palsu. Mereka dapat membuatnya dengan menaruh tepung dalam kapsul dan menjadikannya sebagai obat.

WHO juga percaya bahwa pabrik-pabrik pembuat obat palsu merupakan bagian dari industri besar. Untuk mencegah semakin meluasnya perkembangan obat palsu, lembaga internasional yang melibatkan WHO dan badan intelijen, mulai Selasa (11/11), selama tiga hari, melakukan pertemuan di Hanoi untuk mengatasi penyebarluasan obat palsu ini, khususnya di Asia Tenggara.

BBC/Sunariyah - Tempo News Room

Sumber: http://www.tempo.co.id/