Banner
Indonesian Nutrition Network

ENGLISH

Rujukan

 

Pedoman Gizi

 

Pergizi Pangan

 

Gizi dan Makanan

 

Info Pangan dan Gizi

 

Lembar Berita

 

Jurnal Gizi Indonesia

 

Kontak DPP PERSAGI


Indonesian Nutrition
Network (INN)
Jl. HR. Rasuna Said Blok X-5 Kav. No. 4-9 Lt. 8, Jakarta 12950 Indonesia
Email: info@gizi.net

Copyright © 2001 INN
All rights reserved.

 

Pola Hidup Modern itu Potensi Obese


Kamis, 20 November, 2003 oleh: Siswono
Pola Hidup Modern itu Potensi Obese
Gizi.net -
POLA hidup modern, dengan pola makan modern pula, yang sekarang ini banyak dianut orang ternyata sangat berpotensi rawan diabetes. Sebab, gaya hidup dan pola makan yang disebut modern ini jelas sangat mengancam kualitas kesehatan, justru karena kelebihan gizinya. Kelebihan gizi membuat orang menjadi kegemukan yang mengarah munculnya penyakit kronis, khususnya diabetes melitus (DM).

Ahmad Sulaeman PhD, ahli gizi dan peneliti pangan pada Laboratorium Manajemen Pangan Jurusan GMSK Faperta IPB, menjelaskan, obesitas merupakan suatu kondisi yang dicirikan oleh kelebihan lemak tubuh. Kelebihan lemak pada laki-laki didefinisikan sebagai level lemak tubuh lebih dari 20% dari berat total dan untuk wanita lebih dari 25% dari total berat badan.

Obesitas, masih menurut Ahmad, dapat terjadi karena salah satu faktor atau kombinasi faktor, antara lain (1) suatu asupan makanan yang berlebih, (2) rendahnya pengeluaran energi basal, dan (3) kurangnya aktivitas fisik. "Terjadinya obesitas karena adanya ketidakseimbangan antara asupan energi dan energi yang dikeluarkan atau digunakan untuk beraktivitas. Karena asupan terlalu banyak sementara pengeluaran kurang, maka terjadilah mula-mula overweight (kelebihan berat) dan selanjutnya menjadi obese (gemuk)."

Tapi, obesitas juga dapat terjadi karena faktor genetika. Anak yang dilahirkan dari orang tua yang keduanya obese, mempunyai peluang 75% untuk obese juga. "Bila salah satu orang tuanya obese, maka peluangnya sekitar 40%, dan bila kedua orang tuanya tidak obese peluangnya hanya 10%. Untuk melihat seseorang obese atau tidak, bisa dengan menghitung BMI-nya. Bila BMI di atas 25 untuk laki-laki dan di atas 24 untuk perempuan, dapat dikatakan orang tersebut sudah obese," jelasnya.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Satoto dan Askandar terhadap wabah obesitas di 14 kota di Jawa dan Bali (1997) menunjukkan sebesar 17,5% pria dan wanita mengalami kelebihan berat badan dan 4,7% mengalami kegemukan. Dari angka kejadian tersebut dapat disimpulkan bahwa kelebihan berat badan dan kegemukan telah menjadi masalah besar yang memerlukan penanganan serius, khususnya di kalangan orang dewasa berusia di atas 30 tahun.

Bila bukan karena faktor genetik, menurut Ahmad Sulaeman, disebabkan makan makanan bergizi tinggi dengan energi terlalu tinggi yang umumnya akibat pola makan modern tadi. "Jadi, harus dipilih makanan yang energinya tidak terlalu tinggi, misalnya makanan yang rendah lemak. Kalau energinya tinggi juga, maka supaya asupan tidak terlalu banyak, porsinya harus dikurangi dan perbanyak aktivitas supaya tercapai keseimbangan negatif dalam arti lebih banyak yang dikeluarkan ketimbang yang dimasukkan. Bila hal ini dapat dilakukan, maka untuk memenuhi kebutuhan energinya tersebut, tubuh orang tersebut akan mengambilnya dari cadangan lemak dalam tubuhnya, sehingga dia dapat menurunkan berat badannya."

Obesitas bukan hanya membuat tubuh tidak menarik, tetapi bisa berpotensi sebagai pembunuh. Untuk mengurangi risiko itu, para ahli sepakat bahwa setiap orang yang mempunyai kelebihan berat badan 20% harus melakuklan upaya-upaya untuk menurunkan berat badannya. "Penyebab kematian dapat berasal dari satu atau lebih masalah kesehatan yang berhubungan dengan obesitas seperti artherosclerosis (noninsulin-dependent atau diabetes tipe II). Pengurangan berat badan akan dapat membantu mengurangi diabetes tipe ini. Bisa juga terjadinya tekanan darah tinggi. Hal ini dapat dikurangi bila berat badan turun."

Obesitas juga bisa menyebabkan kanker pada wanita terutama kanker payudara, kantung empedu, dan endometrium. Pada laki-laki dapat membawa kepada kanker kolon, rektum, dan prostat. Hubungan dengan kanker tipe lain masih belum begitu diketahui. "Arthritis terutama di lutut dan paha, batu empedu terutama berisiko untuk seseorang dengan 3f: female (wanita), fat (gemuk), dan fifty (usia 50 tahun). Urat darah terentang (varicose vein) yang disebabkan oleh beban yang berlebih pada kaki. Encok (gout) yang disebabkan oleh kelebihan asupan energi dari protein dan alkohol, masalah ginjal, sesak napas, bau mulut, mudah jatuh, dan meningkatnya risiko operasi (surgical risk)."

Disarankan, agar penderita obesitas harus disiplin dalam menurunkan berat badan. Ada tiga cara yang dapat dilakukan oleh orang yang obese untuk mengurangi lemak tubuhnya, yaitu perbanyak olahraga atau aktivitas fisik, kurangi asupan energi, atau kombinasi keduanya.

Diabetes juga selalu dikaitkan dengan masalah kelebihan gula darah akibat dari makanan yang berlemak tinggi. Namun, bila lebih dalam lagi sesungguhnya terjadinya DM disebabkan rusaknya sel endotel. Berbagai penelitian menjelaskan bahwa sel endotel merupakan sel yang melapisi bagian dalam dari pembuluh darah, cairan plasma darah dan sel-sel otot polos pembuluh darah. Sel endotel berinteraksi langsung dengan sel-sel otot polos pembuluh darah dan sel-sel darah, serta komponen cairan plasma darah.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa sel endotel memegang peran penting dalam sistem keseimbangan tubuh yang terjadi melalui integrasi kerja berbagai zat yang dikeluarkan oleh sel endotel. Sistem ini mempunyai efek baik terhadap sel-sel otot polos pembuluh darah maupun sel-sel darah sehingga dapat menimbulkan berbagai perubahan.

Dr Sidartawan Soegondo SpPDKE menjelaskan, perubahan itu disebabkan terjadinya pelebaran atau penyempitan pembuluh darah untuk mengatur kebutuhan suplai darah bagi seluruh organ tubuh manusia. Perubahan ini juga punya efek positif dalam pertumbuhan dari sel-sel otot polos pembuluh darah, proses radang dan antiradang, mempertahankan kekentalan darah, dan mencegah perdarahan.

Karena fungsi sel endotel yang cukup banyak, maka bila terjadi gangguan fungsi endotel akan berdampak secara keseluruhan. Terjadinya gangguan fungsi endotel ini disebabkan oleh penyakit antara lain hipertensi, diabetes melitus, dan hiperkolesterolemi atau dislipidemia. Ketiga penyakit ini sering kali menjadi faktor tingginya angka kematian. Gangguan fungsi endotel pada penderita DM bisa menyebabkan komplikasi menahun dari penyakit ini. Akibatnya, bisa terjadi gangguan pada mata, ginjal, dan saraf, serta meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung koroner.

Berbagai komplikasi ini akan memengaruhi keutuhan dinding sel endotel. Sebab dinding endotel dibangun oleh protein. Akibat gula darah yang tinggi, akan terjadi reaksi antara gula dan protein untuk membentuk molekul yang merusak dinding sel endotel. Bila kerusakan itu berlangsung lama, akan menimbulkan gangguan fungsi sel endotel di seluruh tubuh. (Nda/V-1)

Sumber: http://www.mediaindo.co.id/