|
Indonesian
Nutrition
Network (INN)
Jl. HR. Rasuna Said Blok X-5 Kav. No. 4-9 Lt. 8, Jakarta 12950
Indonesia
Email: info@gizi.net
Copyright ©
2001 INN All rights reserved.
|
|
|
|
Pada Kelompok Mana DM Anda Berada?
Kamis, 20 November, 2003 oleh: Siswono
Pada Kelompok Mana DM Anda Berada?
Gizi.net -
UNTUK memudahkan dokter dalam mempertimbangkan pasien DM melaksanakan puasa Ramadan, menurut dr Imam Subekti SpPD KEMD, maka pasien DM dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok.
Pada kelompok I, menurut dr Imam, pasien DM yang kadar gulanya terkontrol dengan perencanaan makanan dan olahraga saja. "Pasien DM dalam kelompok ini dapat berpuasa tanpa masalah. Tentu tetap memerhatikan pengaturan makan dan aktivitas fisik."
Kelompok II adalah kelompok pasien DM yang selain melaksanakan perencanaan makan dan olahraga, juga memerlukan obat hipoglikemik oral (OHO) untuk mengontrol kadar gula darahnya. "Kelompok II ini dapat dibagi lagi atas dua bagian, yaitu kelompok IIA yang merupakan pasien DM yang membutuhkan dosis tunggal dan kecil, misalnya glibenklamid satu kali satu tablet sehari pada pagi hari. Kelompok ini boleh berpuasa dengan menggeser obat pagi ke sore saat berbuka puasa. Pola minum obat diubah dari 1-0-0 menjadi 0-0-1, atau hanya saat buka saja mengonsumsi obat."
Sedangkan kelompok IIB merupakan pasien DM yang membutuhkan OHO dengan dosis tinggi dan terbagi, misalnya obat tersebut diminum pagi sebanyak dua tablet dan sore satu tablet. "Kelompok IIB ini dapat berpuasa dengan menggeser obat pagi ke saat berbuka dan obat sore ke saat makan sahur dengan dosis setengahnya. Apabila biasanya pasien minum obat tiga kali sehari, maka obat pagi dan siang diminum pada saat berbuka dan obat sore digeser saat makan sahur dengan dosis setengahnya. Pola minum obatnya menjadi 1/2-0-1 dari sebelumnya 1-1-1," kata dr Imam.
Sedangkan kelompok III merupakan pasien DM yang selain melakukan perencanaan makan dan olahraga, juga membutuhkan atau tergantung pada insulin. "Kelompok tiga ini dibagi menjadi empat golongan yang memiliki risiko sendiri-sendiri. Kelompok IIIA merupakan pasien yang membutuhkan insulin satu kali sehari, misalnya dengan NPH 20 unit satu kali sehari. Sebenarnya kelompok IIIA ini dengan motivasi yang kuat dan pemantauan yang baik, dan harus dengan pengawasan ekstra ketat, khususnya terhadap hipoglikemia, pasien dapat menjalankan ibadah puasa. Suntikan insulin bisa digeser pada saat berbuka puasa."
Pada kelompok IIIB merupakan kelompok pasien yang membutuhkan insulin dua kali atau lebih sehari. "Misalnya pasien perlu insulin RI tiga kali 12 unit sehari. Kelompok ini tidak dianjurkan berpuasa karena dianggap gula darahnya tidak stabil."
Pada Kelompok IIIC merupakan pasien DM yang membutuhkan kombinasi OHO dengan insulin satu kali sehari. Dokter Imam menyarankan kelompok ini boleh berpuasa dengan pengaturan OHO seperti pada kelompok II dan suntik insulin saat berbuka puasa. "Sedangkan kelompok IIIC merupakan pasien DM yang membutuhkan kombinasi OHO dengan insulin dua kali atau lebih. Kelompok ini tidak dianjurkan berpuasa karena dianggap gula darahnya tidak stabil."
Dokter Imam menjelaskan bahwa saran pengobatan diabetes ialah menurunkan kadar gula dalam darah senormal mungkin. "Menurunkan kadar lemak darah dan mencapai berat badan yang ideal. Bila ini dapat dicapai tentunya gejala-gejala diabetes akan berkurang dan dapat mencegah komplikasi DM."
Ia menganjurkan agar pasien DM sebaiknya sebelum berpuasa kadar gula darah terkendali dengan baik. Kadar gula darah puasa yang terkendali dengan baik adalah kurang dari 110 mg% dan kadar gula darah puasa dua jam sesuadah makan kurang dari 160 mg%. Demikian pula dengan pasien DM dengan komplikasi berat, misalnya gagal ginjal atau gagal jantung sebaiknya tidak berpuasa. "Sebab berpuasa bisa memperberat komplikasi yang sudah terjadi."
Pengendalian diabetes yang baik diperlukan untuk mencegah komplikasi DM baik akut maupun kronik. "Kita harus selalu menghindarkan kadar gula terlalu tinggi (hiperglikemia) dan terlalu rendah (hipoglikemia), baik selama bulan Puasa maupun pada hari-hari lainnya."
Hipoglikemia merupakan suatu keadaan yang harus dihindari terutama pada pasien DM usia lanjut karena bisa berakibat fatal. "Hipoglikemia dapat terjadi pada saat berpuasa terutama pada sore hari menjelang berbuka puasa. Bila hal ini terjadi sebaiknya segera membatalkan puasa dengan minum air gula dan dilanjutkan dengan makan."
Tanda-tanda hipoglikemia yang perlu diketahui para penderita DM antara lain gelisah, berkeringat, gemetar, berdebar-debar, kesemutan pada lidah dan bibir, penglihatan ganda, dan bingung. Bila dibiarkan keadaan ini tetap berlanjut, maka dapat terjadi kesadaran menurun dan kejang-kejang. "Pemantauan kadar glukosa darah dirasakan lebih penting selama puasa Ramadan, terutama untuk menghindari kemungkinan hipoglikemia. Pemantauan ini bisa menggunakan uji strip dengan atau tanpa glukometer (pengukur kadar gula)," jelas dr Imam. (Nda/V-1)
Sumber: http://www.mediaindo.co.id/
|
|
 |
|