Banner
Indonesian Nutrition Network

ENGLISH

Rujukan

 

Pedoman Gizi

 

Pergizi Pangan

 

Gizi dan Makanan

 

Info Pangan dan Gizi

 

Lembar Berita

 

Jurnal Gizi Indonesia

 

Kontak DPP PERSAGI


Indonesian Nutrition
Network (INN)
Jl. HR. Rasuna Said Blok X-5 Kav. No. 4-9 Lt. 8, Jakarta 12950 Indonesia
Email: info@gizi.net

Copyright © 2001 INN
All rights reserved.

 

Upaya Perbaikan Gizi di Perkotaan


Selasa, 11 November, 2003 oleh: Gsianturi
Upaya Perbaikan Gizi di Perkotaan
Gizi.net - Berbagai upaya perbaikan gizi, terutama setelah krisis ekonomi melanda, lebih diprioritaskan untuk masyarakat miskin di pedesaan. Padahal, kenyataan menunjukkan, masyarakat miskin di perkotaan lebih rentan terhadap dampak krisis ekonomi ini. Karena itu, dengan bantuan Bank Pembangunan Asia (ADB), kini dikembangkan model intervensi gizi untuk masyarakat miskin perkotaan.

Dalam pertemuan berbagai pihak terkait yang berlangsung di kantor Bappenas, Kamis (16/10), muncul berbagai usulan mulai dari memanfaatkan kelompok-kelompok binaan yang sudah ada, mengintegrasikannya dengan program lain yang sudah ada, membantu gizi.lewat tempat penitipan anak (TPA) maupun kelompok bermain, hingga perlunya pemberdayaan ekonomi agar hasil intervensi gizi bisa berkelanjutan. Pertemuan dipimpin oleh Leila Retna Komala, Deputi Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaaan Bappenas.

Upah rendah
Menurut Dr Ir Taufik Hanafi MUP dari Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas, kerentanan pada masyarakat miskin perkotaan disebabkan oleh ketergantungan mereka pada pekerjaan yang tidak aman (insecure) dan upahnya rendah. “Begitu ada krisis, upah yang sudah rendah ini semakin turun dan bahkan tidak sedikit yang menjadi pengangguran,” tuturnya.

Hasil penelitian menunjukkan, selama krisis berlangsung angka masyarakat miskin terus meningkat. Antara 1996-1999 jumlah orang di bawah garis kemiskinan meningkat dari 18 juta menjadl 32,2 juta.

Jumlah anak-anak berusia dibawah lima tahun (balita) yang terkena malnutrisi ternyata lebih tinggi di Jakarta, yang mencapai 13 persen, dari pada pedesaan di Jawa yang hanya 5 persen. “Sebagian besar populasi yang kurang gizi selama krisis ekonomi disebabkan oleh ketidakamanan pangan pada skala rumah tangga, terutama pada masyarakat miskin,” kata Taufik.

Menurut data Helen Keller International, jumlah ibu hamil dan anak balita juga lebih tinggi di kawasan urban dari pada pedesaan di Jawa. Padahal, anemia memicu perdarahan saat melahirkan sehingga menjadi faktor angka kemnatian ibu yang masih tinggi di Indonesia.

Untuk menyusun model intervensi tersebut ADB menyediakan dana 500.000 dollar AS dengan dana pendampingan dari Pemenintah Indonesia 125.000 dollar AS. Diharapkan proyek selesal dalam waktu kurang dan satu tahun. (NES)

Sumber:
Kompas, 17 Oktober 2003